Menulis di Atas Pasir

18 February 2009 3 Komentar

Sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi suatu padang pasir. Di tengah perjalanan, mereka berselisih paham dan bertengkar, dan salah seorang menampar pipinya. Orang yang kena tamparan sahabat karibnya tadi benar-benar merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir; HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU TELAH MENAMPAR PIPIKU. Mereka berdua terus berjalan, sampai akhirnya menemukan sebuah oasis, dimana mereka kemudian memutuskan untuk mandi. Sahabat yang pipinya terkena tamparan dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU TELAH MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya tadi bertanya, ” Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menuliskannya di batu ?” Temannya sambil tersenyum menjawab, ” Ketika seorang sahabat melukaiku, maka akan kutuliskan di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, maka akan aku pahat di atas batu hatiku, agar tidak hilang tertiup angin.”

Cerita sederhana di atas, bagaimanapun juga lebih mudah dibaca daripada diterapkan. Dalam hidup ini sering timbul yang namanya beda pendapat, berselisih paham dan bahkan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masa lalu. Jadi Belajarlah menulis di atas pasir.

Karena itu, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalasnya, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku telah menyakitimu. Namun hanya dengan ijin-Nya aku akan berusaha memaafkannmu. Tapi yang aku takutkan adalah kalian takkan mau memaafkanku. Sungguh, saudara-saudaraku, dosa-dosa kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga membuat aku sesak.

Saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku “ada” di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.

3 Comments »

Feel Free to Comments !?

Be nice! Keep it clean! Stay on topic! No spam!

*

Click to hear an audio file of the anti-spam word