Saturday , 19 April 2014

Hafalan Shalat Delisa : Tegar Hadapi Cobaan

Hafalan Shalat Delisa (HSD), film layar lebar yang diangkat dari novel best seller dengan judul yang sama, karya Tere Liye, menjadi salah satu sinema layar lebar yang patut saya rekomendasikan untuk disaksikan semua kalangan. Untuk mereka yang cinta akan film dalam negeri berkualitas, untuk mereka para pemburu film inspiratif dan membawa pesan edukatif.

Dikisahkan seorang gadis kecil bernama Delisa (Chantiq Schagerl), satu diantara sekian korban selamat dari tsunami Aceh tujuh tahun silam. Ia dengan segala keluguan dan kepolosan, mampu memahami dengan sederhana atas bencana dahsyat tersebut. Diawali dari setting kehangatan sebuah keluarga Islami yang mana sesama anggota keluarga begitu saling mencintai, hingga sebuah kalimat ” Delisa cinta Umi karena Allah” yang kemudian ditebus dengan sebatang coklat dari ustad, dikarenakan berhasil membuat Umi menitikkan airmatanya. Yang pada akhirnya membekaskan penyesalan dalam hati Delisa, bahwa cinta tidak semestinya mencari penukarnya.

Kalung D untuk Delisa – Motivasi dan Reward seorang Ibu

Semangat Delisa untuk menghafal bacaan shalat demi kalung D mengantarkannya pada konsentrasi dan tekun belajar yang tidak terusik sampai akhirnya datang hempasan gelombang pasang air laut. Kalung bertahtakan huruf D sengaja Umi Salamah (Nirina Zubir) hadiahkan untuk Delisa dengan syarat harus lulus ujian menghafal bacaan shalat yang diujikan oleh Ustad Rahmad (Fathir Muchtar). Tetapi, tsunami telanjur meluluhlantakkan Lhok Nga (kampung Delisa), Aceh berubah seketika itu.

Pembelajaran berharga untuk semua orang telah ditunjukkan dengan begitu kuat dan tegarnya seorang gadis kecil bernama Delisa yang menghadapi masa-masa perubahan drastis dalam hidupnya. Apapun yang terjadi life must go on.

Segalanya Terenggut kecuali Senyumannya.

Segalanya terenggut, umi yang begitu ia cintai, ketiga saudaranya, sebagian teman-teman bermainnya sampai sebelah kakinya yang harus diamputasi. Tsunami merenggut segalanya, menyisakan senyumannya, yang siapa sangka menjadi senyuman semua orang di sekitarnya untuk kembali menatap masa depan cerah.

Adegan demi adegan pengaduk emosi banyak muncul di film ini. Diperankan hampir nyata oleh Reza Rahardian ( Abi Usman, Ayahnya Delisa ), saat lari menuju kampung halamannya, lalu merengkuh papan ayunan di antara rubuhan rumahnya, ketika berlari memastikan kebenaran kabar Delisa, merencanakan rumah barunya bersama Delisa, juga adegan membanting piring berisi nasi goreng yang tidak seenak masakan Umi Salamah dulu. Keberhasilan akting Reza berhasil memberi kesan menarik dan menyentuh ketika dikolaborasikan dengan penjiwaan dan kepolosan Chantiq Schagerl ( Delisa ) yang menekankan emosi klimaks pada adegan protesnya kepada Allah ketika Uminya Umam (Teman Delisa yang terkenal suka usil dan nakal ) ditemukan..

” Delisa benci… Umam saja yang nakal Uminya ketemu, Kenapa Umi Delisa gak ketemu… Allah gak adil sama Delisa..!! “

Berujung membawa kesadaran bahwa keikhlasan tidak butuh hadiah.

====

Kisah-kisah seperti ini, baik nyata, fiktif memang menjadi senjata ampuh untuk menjadi tema sebuah film lokal kita. Di dalamnya mungkin ribuan pesan inspiratif, emosional dan edukatif disematkan ke dalamnya. Termasuk film Hafalan Shalat Delisa yang akhirnya menjadi sebuah film bergenre religi Islami.

Sungguh disayangkan, kurangnya menyuguhkan aksen atau dialek bahasa lokal, walaupun tetap ada pada bagian munculnya soundtrack Ibu dengan kekhasan logat Aceh. Juga adanya kejanggalan di mana Ustad Rahmad tiba-tiba muncul seolah-olah baru datang dari desanya, padahal jelas terlihat ketika tsunami datang melanda dia juga sedang menguji Delisa. Namun, berkat diimbangi esensi mulia Hafalan Shalat Delisa dan novel best Seller Tere Liye, juga didukung dengan akting pemain senior yang tidak diragukan lagi dalam memerankan karakter yang diembannya seperti Reza Rahardian, Nirina Zubir, Mike Lewis, Joe P Project, Al Fathir Muchtar dan lain-lain menjadikan film ini enak untuk dinikmati bersama keluarga.

Saya terus terang belum membaca novel ini, tapi menurut hemat saya, Sony Gaokasak berhasil mengemas kisah novel yang pasti menampilkan imajinasi luas menjadi kisah sederhana menjadi tontonan yang layak untuk diambil teladan. Kalau saya boleh menilai, saya vote 6/10.

Trailer Hafalan Shalat Delisa

5 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top